Budidaya Masa Kini: Mengenal Tanaman Porang

Tanaman porang saat ini sedang tren di kalangan masyarakat terutama petani. Padahal dahulu porang merupakan tanaman yang tumbuh liar di pekarangan rumah. Bahkan di beberapa daerah, tanaman tersebut dianggap sebagai makanan ular. Beberapa petani di Indonesia mulai melirik menanam porang seiring dengan meningkatnya permintaan ekspor umbi porang. Mengutip dari website Indonesia.go.id berdasarkan data Indonesia Quarantine Full Automation System (IQFAST) atau Badan Karantina Pertanian mengemukakan semester pertama 2021, ekspor porang Indonesia mencapai angka 14,8 ribu ton. Angka tersebut melampaui jumlah ekspor semester pertama pada 2019 dengan jumlah 5,7 ribu ton. Mendulangnya nilai ekspor yang cukup tinggi, negara-negara yang menerima suplai ekspor utama porang Indonesia adalah Cina, Vietnam, dan Jepang.

Gambar 1. Tanaman Porang (Amorphophallus muelleri)

Lantas, tanaman porang termasuk jenis tumbuhan apa? 
Penelitian Botani, Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyatakan bahwa porang masih satu keluarga dengan bunga bangkai. Porang masih satu marga Amorphophallus, tetapi nama latin untuk tanaman porang adalah Amorphophallus muelleri. Tanaman porang menurut Yulianto et al. (2016) adalah tanaman yang hidup di bawah tegakan hutan tropis dan dataran rendah. Selain dapat hidup di dataran rendah, porang dapat tumbuh di antara tegakan pohon hutan seperti Jati dan Sono. Porang di daerah jawa di kenal dengan nama iles-iles, termasuk tumbuhan semak/tanaman pendek dan tidak memiliki kayu (herba). Selain itu, memiliki tinggi 100-150 cm dengan ubi yang berada di dalam tanah [1].
Secara teori tanaman porang dapat dibudidayakan pada ketinggian 0-700 mdpl namun paling bagus pada daerah dengan ketinggian 100-600 mdpl. Selain itu, dibutuhkan tanah yang gembur, bertekstur lempung berpasir dan bersih dari alang-alang. 

Pada persiapan lahan 
Porang yang akan ditanam di lahan miring, lahan tidak perlu diolah cukup dibersihkan saja. Lalu dibuat lubang tempat tumbuh bibit. Pada lahan datar, lahan dibersihkan terlebih dahulu dari gulma lalu dibuat guludan 50 x 25 cm dan panjang disesuaikan dengan lahan yang ada. Jarak antar guludan kurang lebih 50 cm. Porang dapat diperbanyak secara vegetatif dan generatif (biji dan katak). Bibit porang cukup ditanam sekali. Setelah bibit berusia 3 tahun, porang dapat dipanen setiap tahunnya tanpa perlu penanaman kembali. 
Porang sangat baik ditanam ketika musim hujan yaitu Bulan November-Desember. Dalam pemeliharaan tanaman porang tidak membutuhkan pemeliharaan khusus. Namun untuk mendapatkan hasil optimal dapat dilakukan pemeliharaan secara intensif dengan cara penyiangan, pemupukan, dan pengamanan pohon pelindung. Pada tahap pemupukan, pemberian pupuk dilakukan dengan cara ditanam di sekitar batang porang [2].
Tanaman porang hanya mengalami pertumbuhan selama 5-6 bulan tiap tahunnya (pada musim penghujan). Diluar masa itu, tanaman porang mengalami dormansi (istirahat) dan daunnya akan layu sehingga seolah-olah mati. Waktu panen porang dilakukan pada bulan April-Juli. Umbi yang dipanen adalah umbi besar yang beratnya lebih dari 2 kg/umbi. Rata-rata produksi umbi porang berkisar 10 ton per hektarnya.

Siapa tokoh yang telah sukses menanam Porang?
Dalam membudidayakan tanaman porang memang sangatlah mudah. Tanaman jenis ini tidak membutuhkan perhatian khusus dalam hal pemeliharaannya. Dilansir dari detiknews.com seorang petani milliarder porang asal Madiun mengatakan bahwa dalam membudidayakan tanaman porang, beliau memiliki tips agar porang bisa dipanen lebih cepat. Menurut Paidi, porang umumnya tumbuh liar di bawah naungan pohon lain. Hal tersebut yang membuat porang lama untuk dipanen. Setelah melakukan berbagai eksperimen dalam membudidayakan tanaman porang, ternyata tanaman porang dapat ditanam di daerah persawahan. Melalui pemupukan dan perawatan, pertumbuhan porang lebih cepat dan optimal. Selain itu, beliau memilih menanam menggunakan umbi porang bukan biji “katak” yang menempel di daun. Melalui pola tanam baru tersebut, Paidi bisa memanen 70 ton porang dalam satu hektar dibandingkan sebelumnya yang hanya menghasilkan 9 ton [3].

Bagaimana menurut kalian? Tanaman yang tadinya dinilai hanya sebagai tanaman liar kini mampu menaikkan perekonomian. Hal tersebut terbukti dari jerih payah bapak Paidi, mantan seorang pemulung yang menjadi petani milliarder berkat menanam porang dan kini memiliki perusahaan PT Paidi Indo Porang. Keren!!

Yuk para millennial, saatnya kita yang beraksi.

Referensi:
[1] Yulianto SE, Nora A, Ramdan H. 2016. Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh (CPPU) Pada Tanaman Porang (Amorphophallus Onchophyllus) di Ketinggian Tempat yang Berbeda. J Plumula 5(1): 58-68 [Lihat]
[2] Wibowo, Among.2020. Teknik Budidaya Tanaman Porang. Diambil dari pertanian.magelangkota.go.idEdisi 18 November 2020 [Lihat]
[3] Harianto, Sugeng.2020. Ini Cara Tanam Porang Ala Mantan Pemulung yang Jadi Milliarder. Diambildari detiknews.com Edisi 04 Februari 2020 [Lihat]