Potensi Tanaman Pisang Sebagai Bahan Pupuk Organik Cair

Siapa sih yang tidak mengenal pisang? Pisang (Musa sp.) merupakan salah satu tanaman dari family musaceae. Tanaman ini cukup familiar di masyarakat, lantaran tanaman ini tersebar luas di berbagai daerah Indonesia. Dikutip dari data BPS 2020, produksi tanaman buah-buahan khususnya pisang di Indonesia mencapai 8.182.756 ton [1]. Dibalik banyaknya produksi tanaman pisang yang tinggi, ternyata menyisakan batang pisang yang belum terkelola secara optimal. Banyak yang terbuang sia-sia. Petani, pada umumnya hanya membiarkan batang pisang hingga membusuk begitu saja setelah memanen buahnya. Hanya segelintir masyarakat saja yang memanfaatkan batang pisang untuk dijadikan bahan kreasi dan kebutuhan.
Gambar 1. Tanaman Pisang (Musa sp.) (pixabay/Saurabh Joshi)

Diketahui batang pisang memiliki kandungan air yang cukup tinggi sehingga batang pisang sulit untuk dihancurkan atau dibakar [2]. Oleh karena itu, untuk mengurangi limbah batang pisang, perlu adanya inovasi atau gagasan terkait pemanfaatan limbah tersebut. Pemanfaatan limbah industri dalam bidang pertanian dengan menjadikan batang pisang sebagai dasar dalam pembuatan pupuk sangat dibutuhkan saat ini. Adanya pembuatan limbah batang pisang sebagai pupuk dapat membantu para petani dalam membudidayakan tanaman. Selain itu, dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia yang nantinya dapat merusak tanah. 
Mengulas sedikit mengenai pupuk, pupuk merupakan bahan yang ditambahkan ke dalam tanah untuk menyediakan unsur-unsur esensial bagi pertumbuhan tanaman. Jika dilihat berdasarkan sumber bahan yang digunakan, pupuk dibedakan menjadi pupuk anorganik dan pupuk organik. Berdasarkan bentuknya, pupuk organik dibagi menjadi dua yaitu pupuk cair dan pupuk padat. Pupuk cair sendiri adalah larutan yang mudah larut dan berisi satu atau lebih pembawa unsur yang dibutuhkan tanaman. Secara tidak langsung, kelebihan dari pupuk cair yaitu dapat memberikan hara sesuai dengan kebutuhan tanaman. Menurut Efelina et al., (2018), ekstrak batang pisang memiliki kandungan unsur P berkisar antara 0,2–0,5% yang bermanfaat menambah nutrisi untuk pertumbuhan dan produksi tanaman [3]. Adanya pembuatan pupuk terutama pupuk cair dari batang pisang akan menjadi alternatif lain dalam pemakaian pupuk kimia di dunia pertanian dan perkebunan. 

Lalu, bagaimana membuat pupuk organik cair dari batang pisang? 
Bahan dan alat yang dibutuhkan dalam membuat pupuk organik cair dari batang pisang sangatlah murah dan mudah didapatkan. Bahan yang perlu dipersiapkan yakni: 
  1. Satu kilogram (1 kg) batang pisang (gedebog). Gedebog yang dianjurkan untuk dibuat sebagai pupuk organik cair yaitu bagian dalam yang berwarna putih.
  2. Dua ratus gram (200 g) gula pasir. Jika tidak ada gula pasir bisa menggunakan gula aren.
  3. Tiga liter (3 L) air tanah.
  4. Effective Microorganisme 4 (EM4). EM4 sendiri dapat dicari dibeberapa toko pertanian di daerah masing-masing. EM4 adalah larutan Mikro Organisme Lokal (MOL) yang mengandung unsur hara mikro, makro, dan bakteri yang berpotensi sebagai perombak bahan organik, perangsang pertumbuhan, dan agen pengendali hama dan penyakit tanaman.
Sementara itu, alat yang dibutuhkan yaitu: 
  1. Alat pemotong/pencacah seperti pisau dan sejenisnya 
  2. Ember beserta tutupnya. 
Setelah bahan dan alat siap, maka terdapat beberapa tahap dalam proses pembuatan pupuk organik cair diantaranya sebagai berikut: 
  1. Potong gedebog pisang dengan ukuran kecil 3-4 cm.
  2. Setelah itu, larutkan gula dan EM4 kedalam ember yang telah diisi air, aduk hingga rata. 
  3. Tahap ketiga, masukkan potongan gedebog tadi kedalam ember yang telah terisi larutan gula dan EM4 lalu tutup rapat. Larutan tersebut difermentasi kurang lebih selama 14 hari.
Tanda pupuk siap pakai seperti apa?
Akhir fermentasi ditandai dengan timbulnya gas, wadah menggelembung, terdapat tetes-tetes air, tercium bau aroma tape, dan warna larutan berubah menjadi keruh. Selain itu, terdapat lapisan berwarna putih baik di permukaan larutan maupun dinding wadah fermentasi. Jika tanda-tanda tersebut muncul, maka pupuk sudah siap untuk digunakan dengan cara disaring terlebih dahulu. Gunakan pupuk organik cair tersebut dua kali dalam seminggu dengan cara disiramkan pada tanah di sekitar tanaman yang dibudidayakan. Sebagai contoh untuk tanaman tomat, dosis yang digunakan adalah dengan perbandingan 1:15 yang berarti satu bagian pupuk cair organik dari limbah pelepah pisang yang dicampur dengan 15 bagian dari air tanah atau sumur yang akan digunakan.
Nah, sudah tahu bukan bagaimana memanfaatkan batang pisang untuk tanaman. Jangan lupa mencobanya ya sobat! Bantu pertanian Indonesia untuk meminimalisir penggunaan pupuk kimia dengan beralih ke pupuk organik cair demi mengurangi degradasi tanah yang semakin meluas. Manfaatnya yang begitu besar untuk pertumbuhan tanaman dan fungsinya dalam memperbaiki tanah, pupuk organik cair menjadi alternatif pengganti pupuk kimia dalam dunia pertanian.

Referensi:
[1] BPS. 2020. Produksi Tanaman Buah-buahan 2020. Diambil dari bps.go.id pada 09 September 2021 [Lihat]
[2] Taslim R dan Amril A. 2017. Karakteristik Fisik Tanaman Bayam terhadap Penggunaan Pupuk Cair dari Limbah Batang Pisang. J Prosiding Seminar Nasional Fisika Universitas Riau. ISBN 978-979-792-691-5 : 93-98 [Lihat]
[3] Efelina V., Endah P., Sarah D et al. 2018. Sosialisasi Pembuatan Pupuk Organik Cair dari Batang Pohon Pisang di Desa Mulyajaya Kecamatan Telukjambe Timur Kabupaten Karawang. J Senadimas: 357-359 [Lihat]